Proyek wakaf yang berhubungan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan (SDG5) secara garis besar berfokus kepada pekerjaan yang layak (SDG8). Oleh karena itu, kita dapat menggabungkan diskusi tentang keduanya secara bersamaan. Proyek-proyek ini secara khusus berfokus pada peningkatan skill dan bantuan (SDG8.5 dan SDG5), seperti keterampilan menjahit dan pembuatan pakaian (YMA, Kenya dan JCorp.Malaysia), budidaya jamur (IWF di Indonesia), sereh dan pertanian tanaman komersial lainnya (ACT di Indonesia), peternakan (YMA di Kenya), proyek rumah kaca (IWF di Bosnia dan Herzegovina), dan perikanan (Global Waqf Indonesia).

Sebagai bagian dari pemberdayaan, skill kepemimpinan perempuan juga harus ditingkatkan, yang merupakan agenda dari DDR Indonesia, Awqaf SA. Dalam hal penyediaan infrastruktur, dua proyek – penyediaan kavling toko (SIRC Selangor, Malaysia) dan pedagang mikro (YMA Kenya) juga perlu dicatat.

Penyediaan keuangan mikro (SDG8.6) telah dilakukan oleh beberapa organisasi seperti Waqaf Dana Niaga Jcorp di Malaysia, IICO dan ACT di Indonesia. Untuk pemberdayaan penyandang disabilitas, Al-Basaair School for the Disabled by YMA, Kenya menawarkan contoh yang pantas. Demikian pula untuk pemberdayaan sosial dan ekonomi perempuan (SDG5), Pusat Pembelajaran Khadijah yang didirikan oleh DDR menawarkan contoh yang juga sangat baik. Dalam blog sebelumnya, kita telah membahas bagaimana wakaf (Fail Khair) direkayasa dari sumbangan untuk mengusahakan keuangan mikro bagi orang miskin yang dilanda bencana angin topan di Bangladesh.

Persentase yang sangat besar dari wakaf kontemporer, terutama proyek-proyek oleh organisasi internasional sangat berfokus pada penyediaan air (SDG6), yang mungkin sebagai usaha untuk meniru wakaf sosial pertama (Rumah sumur di Madinah oleh Othman ra) dalam sejarah Islam. Terdapat beberapa contoh yang pantas dari Turki (IHH) yang menyediakan 8369 sumur di 37 negara sejauh ini, dari Inggris (International Waqf Fund) yang menggali sumur di Nigeria, Bangladesh, dari Afrika Selatan (Sumur penggalian Awqaf SA di Malawi dan SA), dan dari Indonesia (Aksi Cepat Tanggap – ACT membuat Lumbung Air di Indonesia, Palestina dan Somalia). Selain menggali sumur, proyek Lumbung Air juga melibatkan transportasi dan distribusi air minum dengan truk khusus. Contoh menarik lainnya adalah sumur bertenaga surya yang didirikan oleh Yayasan Urusan Agama Turki (TDV) di Senegal dan Mauritania.

Di bidang energi alternatif dan berkelanjutan (SDG7), terdapat juga dua contoh yang tidak kalah menarik. IWF yang berbasis di Inggris telah membangun rumah untuk Anak Yatim di Bangladesh yang dilengkapi dengan tenaga surya. Dalam intervensi brilian lainnya, terdapat IBF Net yang mendanai proyek untuk menyediakan tenaga surya ke masjid-masjid di daerah terpencil di India.

Di bidang infrastruktur transportasi (SDG9), kasus Terminal Bus WanCorp Larkin Sentral terdokumentasi dengan baik (dapat dilihat pada blog kami sebelumnya). Hal ini menjadi contoh pertama dalam mengumpulkan sumber daya wakaf tunai baru melalui Penawaran Awal Saham Wakaf dan menggunakan sumber daya tersebut untuk merenovasi dan memperluas Terminal Bus untuk kepentingan publik. Pada saat yang sama, sebagian dari hasil saham wakaf digunakan untuk menyediakan toko-toko dengan sewa rendah di Terminal kepada ibu-ibu tunggal dan sebagian lainnya diberikan kepada SIRC Johor untuk membiayai kegiatan rutin kesejahteraan sosialnya. Dalam contoh lain yang terdokumentasi dengan baik, hasil dari Sukuk Terkait Wakaf Tunai terutama digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk mendanai proyek infrastrukturnya. Seperti disebutkan sebelumnya, hasil sukuk tersebut diteruskan ke BWI yang kemudian digunakan untuk memberikan perawatan mata gratis kepada orang miskin.

Adalah fakta, bahwa sektor wakaf global masih belum memberikan penekanan pada isu-isu seperti pemeliharaan planet bumi, lingkungan, atau masalah keberlanjutan dengan kehidupan di bumi atau kehidupan di bawah air, walaupun faktanya ini adalah masalah yang sangat serius baik dari sudut pandang tujuan syariah maupun dari sudut pandang tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG 14-15). Bahkan era Dinasti Ottoman telah menyaksikan beberapa wakaf yang didedikasikan untuk kepedulian tersebut. Baru-baru ini, terdapat seruan untuk mendirikan wakaf hijau atau wakaf yang didedikasikan untuk aforestasi dan memenuhi tantangan lingkungan lainnya (misalnya IUCN). Tentunya kita mengharapkan tindakan akan menyusul seiring adanya seruan ini. Contoh kepedulian lingkungan (SDG 11, 15) yang memungkin adalah pengenalan layanan pemakaman ramah lingkungan (Taman Memorial Firdaus di Bogor, Indonesia).

Seperti yang dikatakan mengenai wakaf Dinasti Utsmani, wakaf ini memberikan pelayanan terhadap seseorang dari buaian sampai liang kubur. Sebuah kota harus menyediakan tempat tinggal yang terjangkau bagi penduduknya yang hidup. Sebuah kota juga harus memperhatikan orang-orangnya yang sudah meninggal. Persentase yang signifikan dari tanah wakaf adalah berupa pemakaman atau kuburan. Pemakaman semacam itu seringkali tidak terawat dengan baik, tidak terurus dan ditumbuhi rumput liar. Meskipun ada beberapa pengembangan bentuk properti wakaf lainnya (misalnya mendirikan toko atau bangunan untuk disewakan), seringkali kuburan dianggap sebagai pengecualian. Para ulama dan cendekiawan umumnya tidak setuju dengan gagasan pengembangan tanah semacam itu dengan alasan bahwa segala jenis kegiatan komersial dilarang. Hal ini tidak menghalangi beberapa badan wakaf untuk mengubah aset tersebut menjadi aset yang menghasilkan pendapatan, menjadikannya entitas berkelanjutan yang menyediakan layanan terkait pemakaman yang efisien dan yang lebih penting, tanpa biaya kepada orang miskin yang tidak mampu membelinya. Hal ini dimungkinkan dalam kerangka wakaf yang mengesampingkan pembagian keuntungan komersial swasta.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan contoh situs pemakaman yang indah bernama Firdaus Memorial Park, atau Pemakaman Firdaus. Pemakaman muslim di kota Bandung, Jawa Barat ini merupakan bagian dari program wakaf produktif Dompet Dhuafa. Ide penyediaan lahan pekuburan yang terjangkau bagi seluruh umat Islam didasarkan pada kenyataan bahwa tanah kuburan di kota Bandung semakin hari semakin sempit dan mahal. Firdaus Memorial Park merupakan bagian dari program wakaf yang terdiri dari Rumah Bersalin gratis, pesantren penghafalan Alquran, pertanian dan peternakan yang berdiri di atas lahan masyarakat seluas 21 hektar. Melalui program pemberian wakaf uang, pendonor atau Wakif berhak mendapatkan manfaat berupa dua bidang tanah untuk kuburan anggota keluarganya, dan dua bidang lagi untuk kuburan orang miskin. Manfaat lain yang didapat dari wakaf jenis tersebut antara lain adalah pembebasan dari semua biaya mulai dari pengelolaan jenazah, pengiriman dengan mobil jenazah, hingga perawatan makam.

________________________________________________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: