Dalam blog baru-baru ini, saya telah mempresentasikan kerangka kerja untuk mengidentifikasi poin-poin aksi dalam sektor wakaf untuk membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Poin-poin ini adalah komponen dari keseluruhan agenda penelitian kami untuk menguji keselarasan dan juga ketidaksinambungan antara SDGs dan Maqasid-Syariah (MaS) serta peran sektor keuangan sosial Islam secara umum dan sektor wakaf khususnya dalam mencapai keduanya. Di blog terkait lainnya kami melakukan kilas balik ke zaman Dinasti Utsmani dan mencari jawaban atas pertanyaan ini dalam konteks wakaf Dinasti Utsmani. Kemajuan yang secara alamiahnya dari usaha ini adalah untuk mengetahui sejauh mana wakaf kontemporer di seluruh dunia menangani SDGs, dan sejauh mana mereka dapat menangani kebutuhan sosial? Jika wakaf merupakan bentuk respons alami terhadap kebutuhan sosial kontemporer, lalu apa saja bentuk perubahan yang telah dialami sejak zaman Dinasti Utsmani? Kami sadar bahwa apa yang kami miliki disini bukanlah bukti yang komprehensif, atau hasil dari penelitian yang ketat, akan tetapi hanya sebagai bentuk pendahuluan dasar yang dilakukan berdasarkan survei melalui situs internet dari organisasi dan lembaga Islam mayoritas terkait. Hasil ini mungkin akan bersifat bias karena hasil surveinya nanti akan benar-benar bergantung pada apakah organisasi atau lembaga tersebut secara ekstensif mengupdate program dan aktivitas mereka di website atau portal mereka atau tidak.

Dimulai dari SDG1, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pengentasan kemiskinan memanglah merupakan tujuan yang cakupannya cukup luas. Kami menemukan beberapa contoh yang sangat baik saat kami melihat kedalam poin-poin tertentu dalam SDG yang menangani berbagai aspek kemiskinan. Mengambil contoh spesifik tentang anak yatim piatu, ditemukan beberapa angka yang signifikan dari negara Pakistan, India dan Indonesia. Di negara bagian Kerala di India saja yang populasi umat Muslimnya sekitar 8,8 juta atau 26 persen dari total populasi keseluruhan, terdapat 144 panti asuhan yang masing-masingnya memiliki lebih dari 1000 penghuni Di negara bagian lainnya, hanya sekitar 25-30 yang dapat kami temukan di website terkait. Di Indonesia, diperkirakan terdapat antara 170.000 dan 500.000 anak yang tinggal di sekitar 8.000 panti asuhan. Selanjutnya di Pakistan, diperkirakan terdapat 4,2 miliar anak yatim piatu dengan 120-140 panti asuhan (jumlah yang kami temukan di website). Yayasan Edhi yang dikenal secara global dalam merawat anak-anak yatim piatu, mengelola sekitar 18 rumah termasuk 13 panti asuhan, dengan total 8500 penghuni.

Selanjutnya, poin SDG2 adalah tentang memerangi kelaparan dan juga membangun kesadaran bahwa sebagian besar lahan wakaf yang bisa diolah harus digunakan untuk pertanian guna meningkatkan hasil pertanian. Di Indonesia, dua model pengembangan wakaf telah dikemukakan. Pertama, lahan pertanian wakaf yang dikelola dengan mekanisme muzara’ah atau Ijarah. Untuk model ini, Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai pemilik tanah bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk membiayai benih, peralatan dan pengairan lahan yang akan dikelola. BWI kemudian membuat perjanjian muzara’ah dengan pengelola dan menentukan rasio bagi hasil di awal perjanjian. Sebagai alternatif, BWI masuk ke Ijarah dengan pengelola untuk menyewa lahan pertanian, dan pengelola hanya membayar sewa berkala setelah dikurangi upah. Dalam muzara’ah, upah dapat diambil dari persentase hasil pertanian sehingga tidak membebani pengelola. Pengaturan seperti ini berlaku untuk jangka waktu yang terbatas dikarenakan kekhawatiran tentang kelestarian dari kepemilikan tanah wakaf.

Seterusnya, jika menilik kepada poin SDG3, lagi-lagi terdapat beberapa contoh dan model yang sangat menarik, yang kami temukan di Malaysia yaitu berupa wakaf korporasi. Contoh yang kami temukan yaitu Wakaf Al-Noor, yang juga telah banyak dilaporkan dan didokumentasikan. Walaupun faktanya, Turki adalah contoh wakaf korporat paling awal di Vehbi Vekfi. Namun kami telah membahas kedua kasus ini di blog sebelumnya. Wakaf/ yayasan Al-Noor dikenal dengan rumah sakitnya di mana orang miskin dan yang membutuhkan dapat mendapatkan perawatan kesehatan yang berkualitas dengan biaya yang minim. Terdapat juga contoh lain yang tidak kalah bagusnya di negara Pakistan, seperti; rumah sakit kanker Shaukat Khanum, Rumah Sakit Indus dan SIUT dan di India, seperti, rumah sakit KTCT, Al-Ameen, Santhi dan Iqraa Internasional. Menariknya di Indonesia, kami menemukan rumah sakit yang dibiayai melalui wakaf, seperti Rumah Sehat. Untuk kasus di Indonesia, terkadang mereka juga melibatkan kemitraan dari LSM Islam seperti Dompet Dhuafa Republika (DDR) dalam bentuk wakaf tunai untuk pendirian atau pendanaan Pondok Pesantren seperti Hasyim Asy’ari dengan membawa sumber daya tanah yang dibutuhkan. Salah satu contoh spesifik yang menonjol adalah investasi sumber daya dari sukuk terkait wakaf tunai dalam proyek infrastruktur pemerintah. Penggunaan sebagian dari pengembalian atau hasilnya diterima oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai pengelola wali amanat utama seluruh Wakaf Indonesia, untuk penyediaan perawatan mata gratis bagi pasien miskin di Rumah Sakit Mata Ahmad Wardi sebagai bentuk inisiatif bersama DDR dan BWI.

Di bidang pendidikan (SDG4), juga kami menemukan beberapa angka yang signifikan dalam ranah pendidikan Islam. Tentu saja, berbicara tentang pendidikan tinggi, terdapat juga lembaga yang sama-sama mengesankan yang lahir dari dana wakaf. Namun pada blog sebelumnya kita telah membahas bagaimana metode jual beli wakaf kembali dilakukan oleh Universti Bistari di Malaysia. Tanah wakaf dikembangkan untuk menampung banyak universitas modern. Akan tetapi, berbicara tentang pendidikan Islam, anda dapat melihat bahwa terdapat infrastruktur besar yang dibangun dengan wakaf yang telah memberikan layanan tanpa terputus selama beberapa dekade dan beberapa abad seperti; universitas-universitas Islam, Jamias, Darul Ulum di seluruh dunia. Untuk contoh-contoh universitas yang sudah sangat tua yang sering dikutip ialah; Universitas Al-Azhar di Mesir, Darul Ulum Deoband di India, Timbaktu di Mauritania, dll. Pada tingkat yang lebih mikro, sebagian besar masyarakat Muslim juga telah menciptakan jaringan madrasah atau sekolah Islam. Di India, diperkirakan terdapat lebih dari 30.000 madrasah. Pernyataan ini dapat dikatakan sedikit meremehkan, mengingat bahwa di negara bagian Kerala saja, dengan populasi Muslim yang kurang dari 5 persen, perkiraan yang lebih dapat diandalkan menyebutkan jumlahnya yaitu 14.000 ditambah dengan lebih dari 200.000 guru. Di Pakistan, diperkirakan terdapat 32.000 madrasah yang dihadiri oleh lebih dari 2,5 juta siswa. Perkiraan lain menyebutkan jumlahnya mencapai lebih dari 60.000. Bangladesh memiliki sekitar 6500 madrasah yang melayani 1,5 juta siswa. Malaysia memiliki 1200+ sekolah Islam dengan 547 entitas terdaftar. Indonesia memiliki sekitar 28.000 pesantren atau sekolah Islam berasrama.

Sebuah eksperimen unik yang sedang dilakukan di Indonesia yaitu menciptakan dan membangun ekonomi lokal di sekitar pesantren ini, yang secara historis dan liberal adalah hasil wakaf berupa tanah. Seluruh jaringan lembaga keuangan berukuran nano dibuat di sekitar pesantren yang disebut Bank Wakaf Mikro atau BWM (dapat dilihat di blog saya sebelumnya) untuk membiayai berbagai kegiatan bisnis serta untuk memperluas keuangan pribadi komunitas lokal. Tidak dipungkiri bahwa hal ini adalah bentuk eksperimen yang sedang berlangsung dengan banyak program dan aktivitas yang relatif baru. Setiap hari Anda akan mendengar tentang percobaan inovasi baru seperti dalam bentuk pendirian kedai kopi kecil atau dalam bentuk kegiatan ekonomi lainnya di bidang pertanian (budidaya hidroponik di teras masjid), perikanan (ikan lele di kolam buatan) dan bidang lainnya ( daur ulang limbah manusia untuk menghasilkan listrik). Hal yang umum dari proyek mikro ini adalah bahwa semua inisiatif ini berpusat di sekitar pesantren atau menggunakan pesantren sebagai inti ekonomi lokal. Ini adalah contoh yang sangat bagus dari proyek-proyek terkait SDG8 (tentang pekerjaan yang layak untuk semua orang) yang berada di proyek terkait SDG4!

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: