Verifikasi, penelusuran, keabadian, validasi melalui konsensus, berbagi melalui jaringan, distribusi antar generasi – atribut dan konsep yang umum pada metodologi block chain memiliki akar dalam keilmuan Islam. “Rantai” (chain) memainkan peran penting dalam membentuk garis ekonomi syariah, dengan menciptakan catatan otentik dan tanpa cacat dari firman Allah serta perkataan dan tindakan Nabi-Nya sebagai dasar perilaku ekonomi syariah.

Fondasi-fondasi konseptual dari teknologi blockchain memiliki dimensi moral yang kuat. Biasanya dikaitkan dengan istilah, seperti: transparansi, verifikasi, keterlacakan, kekekalan, yang semuanya tergolong dalam perilaku moral secara ekonomi dan sosial. Dimensi ini mendorong kepercayaan dan melibatkan pembangunan pemufakatan, yang selanjutnya menggarisbawahi akar moral-nya. Kemunculannya beberapa tahun terakhir ini merupakan respon dari kegagalan banyak institusi-institusi tradisional yang seharusnya berjaga-jaga dari penipuan dan perilaku tidak etis. Karena itu, dimensi ini memiliki nilai pahala yang kuat jika dilihat dari kacamata ekonomi syariah; sebuah disiplin ilmu yang berakar pada etika dan moralitas. Mari kita mulai dengan penjelasan konseptual sederhana tentang blockchain.

Pada tingkat dasar, blockchain adalah konsep yang sudah dikenal. Ia adalah buku besar, atau rekaman. Mirip dengan catatan tertulis (manual atau digital), ia memiliki bab atau blok data dan informasi. Selanjutnya, setiap blok (bab) ditambahkan secara berseri dan berurutan dari waktu ke waktu. Namun, ada beberapa fitur yang berbeda. Pertama, blockchain adalah catatan bersama. Ia adalah rekaman terdistribusi. Ia ada dalam bentuk replikasi sempurna di banyak lokasi, di server para peserta. Tidak seperti catatan – manual atau digital – yang dikendalikan secara terpusat dan diperbarui oleh otoritas terpusat, tidak ada satu peserta pun yang memiliki blockchain yang mampu menetapkan perubahan di dalamnya. Pembaruan apa pun dalam blockchain membutuhkan konsensus di antara semua peserta atau aktor. Kedua, blockchain itu tahan kerusakan atau tidak dapat diubah. Ia menyimpan sejarahnya sendiri sejak entri pertama; identitas setiap entri baru yang dibuat, sebagian, hingga dari identitas entri sebelumnya. Setiap blok individu dengan demikian, terkait dengan semua yang mendahuluinya. Upaya sepihak apa pun untuk mengubah konten atau identitasnya (tanpa konsensus dari semua aktor) tidak dimungkinkan. Fitur blockchain inilah yang membuatnya aman sepenuhnya, transparan, dan dapat menjadi mesin pendorong-kepercayaan.

Apakah fitur metodologi blockchain di atas (dicetak tebal) menarik bagi ekonom Muslim? Jawabannya, mungkin mengejutkan, ya. Mari kita lihat, caranya.

Ekonomi syariah memiliki dasar dalam Alquran dan Hadis – sumber utama etika dan hukum – yang mengatur perilaku semua aktor. Ia mengatur perilaku para sahabat Nabi (saw) di negara Islam pertama; Madinah. Ia menetapkan aturan perilaku ekonomi dan sosial untuk orang beriman saat ini dan di masa depan. Mari kita mulai dengan masa lalu.

Quran: Catatan Firman Allah yang Tidak Dapat Diubah

Setelah wahyu diterima oleh Nabi (saw), dan Alquran yang terdistribusi kepada para sahabat Nabi SAW, yang memainkan peran penting dalam penyusunan Alquran. Selama 23 tahun kenabian, ayat-ayat Alquran dihafal saat diturunkan, dan sekitar 42 sahabat ra menulis ayat-ayat tersebut pada bahan yang berbeda seperti kertas, kain, potongan tulang dan kulit. [1] Proses ini adalah untuk memenuhi kebutuhan untuk mendokumentasikan setiap ayat, atau buku besar yang akan melindungi teks al-quran dari kemungkinan kecurangan – disengaja atau tidak disengaja. [2]

Proses ini adalah membahas kebutuhan untuk mendokumentasikan setiap ayat, atau catatan buku besar yang akan melindungi teks al-quran dari kemungkinan kecurangan – disengaja atau tidak disengaja.

Menyiapkan Dewan: Pada masa Khalifah Abu Bakar, ketika 70 orang yang penghafal Quran, syahid dalam Pertempuran Yamamah, Umar ibn al-Khattab menjadi prihatin dan meminta Abu Bakar untuk menyusun Alquran menjadi sebuah buku. Abu Bakar membentuk sebuah delegasi di bawah kepemimpinan Zaid ibn Tsabit, salah satu juru tulis terkemuka. Delegasi dua belas sahabat ini berkumpul di rumah Umar ra dan mengumpulkan semua bahan yang digunakan untuk menulis ayat-ayat Alquran. [3]

Validasi dan Konsensus: Hukum saksi, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an 2: 282 memainkan peran penting dalam kompilasi Al-Qur’an (serta dalam metodologi hadits), dan merupakan inti dari instruksi Khalifah Abu Bakar kepada Zaid. Pernyataan Ibn Hajar menegaskan pandangan ini, bahwa “Zaid tidak bersedia menerima materi tertulis untuk dipertimbangkan kecuali jika dua sahabat memberikan kesaksian bahwa lelaki itu menerima dikte dari Nabi secara langsung. (Al Bukhari: 4986). Sebanyak 33.000 sahabat setuju bahwa setiap surat dalam Alquran ada di posisi yang tepat. Kemudian mushaf (catatan) ini dikirim ke Umar ibn al-Khattab.

Berbagi di Seluruh Jaringan: Pemerintahan Khalifah Umar ditandai dengan penyebaran Alquran secara cepat di luar batas-batas Semenanjung Arab. Beliau ra mengirim sahabat ra ke Basra dan Kufah untuk mengajar Alquran. Khalifah Utsman melanjutkan upaya untuk memastikan bahwa mushaf didistribusikan secara luas dengan mengirimkan salinan lengkapnya ke banyak provinsi di wilayah teritorial Islam. Beliau memerintahkan agar orang-orang “menulis mushaf”, memastikan banyak replika mushaf didistribusikan seluas mungkin. Hasil dari upaya ini adalah bahwa setiap provinsi Muslim menyerap mushaf ini ke dalam aliran darahnya sehingga tidak dapat diubah dan tidak dapat rusak.

Distribusi antar Generasi: Selain distribusi mushaf melintasi batas-batas geografis, signifikansi yang melekat pada lembaga penghafalan Alquran (huffadz) memastikan bahwa Alquran terus tidak berubah dari generasi ke generasi selama empat belas abad berikutnya. Terlepas dari berbagai format – teks atau digital – dari kasus Alquran, “jaringan terdistribusi” berkembang secara eksponensial. Dalam menghadapi upaya untuk merusak sebuah kata atau bahkan surat, para penghafal al-quran yang seluruh Alquran terukir dengan kuat dalam ingatan mereka, akan membatalkan usaha perusakan ini.

Perhatikan bahwa teknologi buku besar yang terdistribusi atau blockchain secara tepat berusaha untuk memastikan hasil yang serupa. Jika salah satu peserta untuk mengubah data, atau transaksi tertentu, simpul-simpul yang tersisa akan membatalkan perubahan ini. Agar berhasil, aktor yang buruk harus membuat perubahan di semua simpul yang menyimpan data ini, tugas yang hampir mustahil.

Isnad: Rantai Legitimasi untuk Perkataan dan Tindakan Nabi SAW

Sumber utama berikutnha dari etika dan hukum Islam yang membentuk perilaku ekonomi dalam ekonomi syariah adalah hadits atau perkataan dan tindakan Nabi (saw) yang diriwayatkan. Konsep isnad atau rantai otoritas yang membuktikan perkataan dan / atau tindakan Nabi SAW yang diriwayatkan adalah inti dari proses penyampaian legitimasi dan autentisitas historis pada hadits tertentu. Kutipan berikut dari beberapa ulama terkenal menangkap makna dari isnad.

Konsep isnad atau rantai otoritas yang membuktikan perkataan dan / atau tindakan Nabi yang dilaporkan adalah inti dari proses penyampaian legitimasi dan autentisitas historis pada hadits tertentu.

Imam Sufyan at-Tsauri berkata, “Isnad adalah senjata orang beriman. Jadi jika dia tidak membawa senjata, dengan apa dia akan bertarung (melawan desas-desus dan atribusi palsu)?” Imam Muslim meriwayatkan dalam Muqaddimah-nya, Abdullah Ibn al-Mubarak berkata, “Isnad adalah bagian dari din (agama). Jika bukan karena isnad, maka setiap orang akan mengatakan (tentang Islam) apapun yang dia inginkan”. Imam Muslim juga melaporkan Muhammad ibn Sirin (melalui jalurnya sendiri), yang menyatakan: “Ilmu rantai otoritas dan narasi hadits adalah din (agama) itu sendiri. Anda harus memeriksa dari siapa Anda menerima din (agama)”. Skema klasifikasi hadits dalam urutan keasliannya didasarkan pada keandalan perawi dalam rantai riwayatnya, antara lain.

Sebagai contoh, derjat yang pertama di antara jenis hadits adalah sahih (otentik) yang memenuhi lima syarat berikut: (i) Rantai narasi terhubung. (ii) Hadits tidak menentang narasi lain. (iii) Hadits aman dari cacat. (iv) Perawi Hadis dapat dipercaya dan adil. (v) Ingatan para narator utuh dan lengkap. Apa yang tersirat dari kata, “rantai terhubung”? Artinya:

  • Narator telah mendengarnya narasi dari narrator yang dia anggap sebagai naratornya.
  • Narator membacakan narasi ini kepada narator dari siapa ia mengambil narasinya
  • Jika orang tersebut telah mendengar narasi dari ulama, maka dia diizinkan untuk menggunakan salah satu dari dua mode narasi: “Dia meriwayatkan kepada kita” atau “Aku mendengar”

Ilmu hadits sebagai pemengaruh utama perilaku ekonomi syariah pada hakikatnya adalah tentang penyelidikan otentisitas hadits melalui isnad atau rantai narasi.

Perhatikan peran yang dimainkan “rantai” dalam sejarah membentuk garis ekonomi syariah, adalah dengan menciptakan catatan otentik, tidak dapat diubah dan bukti terjaga dan tanpa cacat dari firman Allah, serta perkataan dan tindakan Nabi sebagai dasar perilaku ekonomi Syariah.

Transparansi, verifiabilitas, keterlacakan, keabadian yang menyertai blockchain dapat dilihat sebagai pengurangan gharar dan oleh karena itu, mengarah pada perilaku ekonomi yang sesuai dengan etika dan moralitas Islam.

Langsung ke Tahun 2020: Kontrak dalam Dunia Penipuan (Gharar)

Apakah blockchain memiliki peran dalam ekonomi syariah di zaman sekarang? Selain larangan riba, norma sentral dalam transaksi ekonomi dan keuangan syariah adalah larangan gharar yang berlebihan. Semua bentuk kontrak dan transaksi harus bebas dari gharar (atau ketidakpastian) yang berlebihan. Konsep gharar telah didefinisikan secara luas oleh para ulama dalam dua hal. Pertama, gharar menyiratkan ketidakpastian. Kedua, itu menyiratkan kebohongan. Alquran jelas melarang semua transaksi bisnis, yang menyebabkan ketidakadilan dalam bentuk apapun kepada salah satu pihak. Baik dalam bentuk bahaya atau yang mengarah pada ketidakpastian dalam bisnis apa pun, atau penipuan atau keuntungan yang tidak semestinya. Gharar menyebabkan defisit kepercayaan dan kondisi-kondisi konflik.

Meskipun kita hidup di dunia di mana pemalsuan dan penipuan mendominasi, dunia digital memiliki ketidakpastian dan kerentanan tambahan yang tidak dipahami sebagian besar dari kita. Kami telah belajar untuk menempatkan kepercayaan Kami pada beberapa aktor raksasa – entitas besar sebagai jangkar kepercayaan Kami. Sebagian besar transaksi online dan transfer nilai Kami di seluruh dunia terjadi melalui fasilitas mereka dan melalui saluran mereka. Namun, kepercayaan ini dapat dengan mudah dihancurkan ketika menghadapi pelanggaran data, serangan dunia maya, dan penggunaan data mining yang merajalela untuk memengaruhi pelanggan dan monetisasi informasi. Hal ini adalah kemungkinan yang jelas dengan database terpusat dengan jangkar kepercayaan ini. Inilah alasan di balik munculnya blockchain yang melarang kemungkinan tersebut. Transparansi, verifiabilitas, keterlacakan, keabadian yang menyertai blockchain dapat dilihat sebagai pengurangan gharar dan oleh karena itu, mengarah pada perilaku ekonomi yang sesuai dengan etika dan moralitas Islam. Blockchain hadir untuk memainkan peran penting dalam ekonomi syariah karena para pemimpin pemikirannya berusaha memahami bentuk-bentuk baru risiko, ketidakpastian, penipuan, penipuan, dan kerentanan dalam lingkungan digital.

______________________________________________________________________________

Ditulis oleh Mohammed Obaidullah dengan masukan dari Mohammed Naquib dan Mohammed Zahid Mateen.
(Diterjemahkan oleh: Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

[1] https://www.dailysabah.com/feature/2017/06/02/history-of-the-compilation-of-quran

[2] Al-Qur’an telah ditulis secara keseluruhan selama masa hidup Nabi SAW, tetapi belum dikumpulkan dan juga tidak diatur. Lihat As-Suyuti, al-Itqan, i: 164.

[3] Menarik untuk menggambar garis kesejajaran dalam konteks blockchain – Dewan Pengurus Hedera hashgraph – yang terdiversifikasi, sebuah badan organisasi inovatif terpilih yang didedikasikan untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan publik Hedera. Semua anggota akan menerima suara yang sama dan bertanggung jawab atas pengaturan dan pemeliharaan lanjutan set pertama simpul jaringan publik. Diakses dari https://medium.com/hashingsystems/hedera-hashgraphs-governing-council-1054bcc48ca3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: