Proposisi spesifik MaS yang menangkap dimensi spiritual dan religius yang jelas tidak dapat dipetakan ke SDG yang netral-iman, berakar pada pertimbangan materialistis dan moral, dan sebagian besar disebabkan oleh kegagalan pasar berulang-ulang untuk menangani masalah masyarakat.

Visi pembangunan Islam berawal dari Al-Quran dan Sunnah. Dalam pandangan dunia Islam, narasi yang menangkap manfaat pembangunan adalah falah. Ada banyak referensi dalam Al Qur’an tentang istilah-istilah, seperti, falah atau fawz. [1] Manusia harus berjuang menuju falah, yang menyiratkan kesejahteraan manusia di planet ini dan kesejahteraan planet itu sendiri. Inklusivitas gagasan falah sudah jelas dilihat dari rujukan Al-quran kepada misi Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta alam (‘alamin).

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al-Qur’an, 21:107)

Rahmah (rahmat) mencakup segalanya. Konsensus ilmiah tentang rahmah atau belas kasihan yang menjadi tujuan akhir syariah juga dibangun di atas karakterisasi Al-Qur’an tentang rahmat sendiri, yaitu sebagai “penyembuhan bagi penyakit hati” dan “petunjuk dan rahmat” bagi orang-orang beriman dan umat manusia. [2] Tujuan akhir ini bermanifestasi dengan beberapa cara dalam al-Quran, yang dianggap sebagai salah satu tujuan syariah yang lebih tinggi.

Dari sudut pandang legalistik dan operasional, tujuan yang paling penting dari rahmah dan falah terwujud dalam realisasi maslahah (manfaat) dan pencegahan mafsadah (bahaya) bagi orang-orang dan planet ini.

Dari sudut pandang legalistik dan operasional, tujuan yang paling penting dari rahmah dan falah terwujud dalam realisasi maslahah (manfaat) dan pencegahan mafsadah (bahaya) bagi orang-orang dan planet ini. Narasi kembar maslahah dan mafsadah pada dasarnya adalah dimensi alternatif dari tujuan yang sama.

Manifestasi rahmah lainnya adalah adl atau keadilan. [3]

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (Al-Qur’an, 57:25).

Adl atau keadilan adalah dasar bagi syariah yang berupaya untuk memastikan dan membangun keseimbangan antara hak dan kewajiban, sehingga dapat menghilangkan semua yang berlebih dan kesenjangan disemua bidang kehidupan. Syariah membenarkan jihad [4] sebagai cara untuk memerangi zulm (ketidakadilan) dan qisas [5] (hukum pembalasan) untuk memastikan keadilan. Untuk memerangi ketidakseimbangan ekonomi, syariah merasionalisasi institusi zakat (pungutan tahunan wajib untuk orang kaya) dengan demikian: “supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (Al-Quran 59:7).

Dari perspektif pembangunan, setiap diskriminasi dalam peluang yang terkait dengan pekerjaan, mata pencaharian, pendidikan, perawatan kesehatan, dll yang berdasarkan ras, agama, warna kulit, jenis kelamin tidak sejalan dengan konsep adl. Dari sudut pandang keuangan, keberadaan riba, gharar, risywah, ghubn, dan jalan lain untuk mengumpulkan kekayaan yang tidak adil dan manipulasi pasar (mis. Monopoli) pun tidak sesuai dengan konsep adl.

Tadhrib al-Fard (Mendidik Individu) adalah tujuan syariah lainnya yang memiliki tingkat yang tinggi.[6] Menanamkan rasa takut dan kesadaran akan Pencipta (taqwa), nilai-nilai moral yang benar (akhlaq), kemurnian niat (ikhlas), memperbanyak ibadah (shalat) [7] dan keterlibatan dalam perbuatan amal dan kebajikan (sedekah) semua mengubah seorang individu menjadi agen yang layak dipercaya. Dengan ini ada manfaat baik bagi individu maupun bagi masyarakat yang individu tersebut masuk kedalamnya.

Ada banyak contoh dimana Al-Qur’an dan Sunnah dengan jelas menyatakan tujuan, pembenaran dan manfaat yang terkandung dalam perintah, nasihat, dorongan, kekecewaan, dan larangan mereka. Manfaatnya secara tidak langsung disimpulkan untuk hal lainnya. Dapat diperdebatkan, tujuan adl (keadilan) dan tadhrib-al-fard (mendidik individu) juga dibahas dalam konteks manfaat individu dan sosial (atau, mencegah kerugian individu dan sosial) dan dengan demikian, merupakan manifestasi dari maslahah. Maslahah kemudian menjadi tujuan operasional utama Syariah yang juga dapat diukur. Dengan kata lain, Maqasid Syariah (MaS) adalah mengenai realisasi manfaat (maslahah) dan pencegahan kerugian (mafsadah) yang akan mengarah pada kesejahteraan (falah) bagi orang-orang di planet ini.

Maqasid (Tujuan-Tujuan): Primer & Derivatif

Karya ilmiah terbaru menguraikan visi pembangunan Islam dengan memperluas kerangka kerja Maqasid-al-Shariah (MaS). Kerangka MaS menguraikan lima dimensi yang berusaha dilindungi dan dipelihara oleh Syariah: iman (diin), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl) dan harta (maal) [8] Ini dapat dianggap sebagai tujuan utama atau maqasid (al-asliyyah) yang bertujuan untuk memastikan kesejahteraan manusia.

Namun, ada beberapa tujuan lain yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah yang dianggap penting untuk realisasi tujuan-tujuan utama. Hal-hal ini dapat disebut sebagai konsekuensi wajar mereka (tabi‘ah). Mengingat kaedah hukum Islam bahwa “sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak dapat dipenuhi, makai a adalah wajib”, konsekuensi wajarnya sama pentingnya dengan yang utama. Tidak terpenuhinya salahsatu atau keduanya dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi manusia dan planet ini. Lebih lanjut, mengingat sifat holistik dari keseluruhan kerangka kerja, setiap perbedaan pandangan yang diamati diantara para ulama tentang urutan maqasid yang mencerminkan kepentingan relatif mereka yang sebagian besar tidak relevan. Juga perlu dicatat bahwa dalam dunia yang dinamis, kepentingan relatif dan konsekuensi-konsekuensi dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu, membutuhkan modifikasi yang sesuai dalam kerangka keseluruhan.

Para cendekiawan juga telah menyarankan penambahan dan perubahan pada lima maqasid yang ada dari waktu ke waktu. Contoh penambahan tersebut adalah perlindungan al-‘ird (kehormatan). Ini pada dasarnya berasal dari hak yang diberikan Syariah pada individu untuk menentang fitnah [9] Kontribusi yang tidak kalah pentingnya dalam hal ini, oleh ulama terkenal Ibnu Taimiyyah yang mengembangkan maqasid sebagai daftar nilai-terbuka yang sekarang mencakup (a) pemenuhan kontrak, (b) pelestarian ikatan kekerabatan dan (c) menghormati hak-hak tetangga seseorang (d) cinta kepada Allah (e) ketulusan (f) kepercayaan dan (g) kemurnian moral. Pendekatan serupa diikuti oleh ahli fiqh kontemporer Al-Qaradawi yang selanjutnya memperluas daftar maqasid dan memasukkan martabat manusia, kebebasan, kesejahteraan sosial dan persaudaraan manusia di antara maqasid syariah yang lebih tinggi. Kamali mengusulkan untuk menambahkan pengembangan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam daftar karena ini sangat penting dalam menentukan kedudukan umat Islam dalam komunitas global. Di antara para ekonom muslim kontemporer, Chapra (2008) memberikan diskusi yang luas tentang lima maqasid awal bersama dengan daftar komprehensif dari konsekuensi wajar atau sub-tujuan.

Memetakan SDGs terhadap konsekuensi wajar MaS

Sebuah ulasan Chapra (2008), didapatkan daftar yang komprehensif dari 39 konsekuensi untuk lima maqasid. Dengan daftar ini Kami kembali ke pertanyaan Kami sebelumnya; “Sejauh mana SDGs menyatu dengan visi pembangunan Islam?” Kami berusaha untuk menyediakan pemetaan cepat dibawah SDGs terhadap lima maqasid utama serta akibatnya masing-masing.

Beberapa pengamatan cepat dilakukan. Perbandingan antara tujuan yang memiliki nilai ketuhanan yang melekat padanya, berasal dari prinsip-prinsip moral yang diungkapkan dan yang didasarkan pada iman dan agama disatu sisi (misalnya MaS), dan disisi lain tujuan yang ditetapkan oleh PBB, sebuah badan global yang mewakili masyarakat dengan beragam agama dan budaya (misalnya SDG) terikat untuk memunculkan beberapa bidang ketidakselarasan. Dari total 39 konsekuensi wajar sesuai kerangka kerja Dr. Chapra, 10 tidak dapat dipetakan ke SDGs mana pun. Alasannya tidak terlalu sulit untuk dicari, semua 10 konsekuensi wajar menunjukkan dimensi spiritual dan religius yang jelas dan oleh karena itu, tidak dapat dikaitkan dengan SDGs yang netral-iman, berakar pada pertimbangan materialistis dan moral, dan sebagian besar ditanggung oleh kegagalan pasar berulang untuk mengatasi masalah masyarakat. Sebagian besar tujuan yang lebih tinggi dari Syariah – keadilan, kehormatan dan martabat, kebebasan perusahaan, berekspresi, dan dari ketakutan, perselisihan, korupsi (tata kelola yang baik) ditangkap hanya dalam satu SDGs, yaitu SDG16, dan sampai batas tertentu di SDG5 berfokus pada pemberdayaan perempuan. Penyelarasan lebih baik dengan pemetaan langsung antara MaS dan SDGs dalam konteks kebutuhan ekonomi, seperti: pendapatan dan mata pencaharian, pekerjaan, makanan, air dan sanitasi, tempat tinggal, perawatan kesehatan, pendidikan. Pendidikan memiliki konotasi yang lebih luas dalam konteks MaS karena mencakup pendidikan moral, spiritual, dan agama di samping pendidikan dan keterampilan untuk membuat agen produktif secara ekonomi.

Bersambung

  1. Menurut Chapra (2008), kata falah dan turunannya telah digunakan 40 kali dalam Al-Qur’an. Kata, fawz, yang merupakan sinonim dari falah juga telah digunakan 29 kali bersama dengan turunannya.
  2. Al-Qur’an (10:57)
  3. Menurut Kamali, keadilan sebagai nilai disebutkan dalam Al-Qur’an lima puluh tiga kali.
  4. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya” (Al-Quran 22:39)
  5. “Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal” (Al-Qur’an 2:179)
  6. Kamali menyarankan agar dalam urutan prioritas, bahkan mungkin harus diletakkan di depan Maslahah dan ‘Adl.
  7. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar
  8. Seperti yang awalnya didalilkan oleh Al-Ghazali, dan kemudian oleh Al-Syatibi
  9. Shihab al-Din al-Qarafi menambahkan gol keenam ini ke lima yang asli.

(Bersambung)

(Diterjemahkan oleh:
Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: