Dalam sebuah studi pada tahun 2007 mengenai “Pengembangan Keuangan Mikro Syariah: Inisiatif dan Tantangan” oleh Lembaga Penelitian dan Pelatihan Islam (Islamic Research and Training Institute), Kami mengamati bahwa sebagian besar dari anggota negara-negara OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dengan jumlah populasi umat Muslim yang cukup signifikan, memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi dan terus meningkat. Lima di antaranya – Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Nigeria dan Mesir, menyumbang lebih dari setengah miliar (528 juta) orang miskin di dunia dengan pendapatan di bawah USD2 per hari atau di bawah batas garis kemiskinan nasional.

Menariknya, negara-negara ini juga termasuk kedalam golongan negara-negara dengan tingkat eksklusi keuangan yang tinggi di antara penduduknya. 31 dari 44 negara Muslim (yang dimana perkiraannya tersedia), lebih dari dua pertiga bagiannya mengasingkan diri mereka dari sistem keuangan formal. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, doi 17 negara Muslim lebih dari empat per lima dari delapan puluh persen populasi orang dewasanya, tidak memiliki akses terhadap sistem keuangan. Hal tersebut tentu menimbulkan pertanyaan: Apakah konsep keyakinan dalam Islam dengan larangannya terhadap transaksi berbasis bunga mempengaruhi fenomena ini? Apakah umat Muslim yang miskin di negara-negara ini mengucilkan diri mereka dari sistem keuangan karena ketidakcocokan sistem keuangan modern yang ditawarkan dengan kepercayaan dan budaya yang mereka miliki?

Sebuah artikel berjudul “Islamic Microfinance: An Emerging Market Niche” diterbitkan oleh CGAP bahwa tahun depan merupakan catatan fokus yang meneliti permintaan keuangan mikro yang sesuai dengan ajaran Islam atau keuangan mikro Islam di negara-negara dengan populasi Muslim yang signifikan. Makalah tersebut mengamati bahwa, “Keuangan mikro syariah memiliki potensi untuk tidak hanya menanggapi permintaan yang tidak terpenuhi tetapi juga untuk menggabungkan prinsip sosial Islam dalam membantu pihak yang kurang beruntung dengan kekuatan keuangan mikro untuk memberikan akses keuangan kepada masyarakat miskin”. Yang lebih penting lagi, hal ini juga menggarisbawahi kenyataan bahwa “Membuka potensi ini bisa menjadi kunci untuk menyediakan akses keuangan kepada jutaan umat Muslim miskin yang saat ini menolak jasa keuangan mikro yang tidak sesuai dengan syariat Islam.”

Selanjutnya, studi terkini (2013) oleh Bank Dunia tentang “Islamic Finance and Financial Inclusion: Measuring Use of and Demand for Formal Financial Services among Muslim Adults” (Keuangan Islam dan Inklusi Keuangan: Mengukur Penggunaan dan Permintaan Layanan Keuangan Formal di kalangan umat Muslim Dewasa) adalah kemungkinan merupakan upaya perdana Bank Dunia untuk menyelidiki masalah ini secara luas. Survei tersebut mencakup 66.484 orang dewasa dari 64 negara, mewakili sekitar 75 persen dari populasi umat Muslim dewasa di seluruh dunia, yang menimbulkan beberapa pertanyaan yang relevan: (1) Apakah lebih kecil kemungkinannya bagi umat Muslim daripada non-Muslim untuk menggunakan layanan keuangan formal dalam kondisi mereka saat ini? (2) Apakah umat Muslim yang tidak memiliki rekening bank berbeda dengan para non-Muslim yang tidak memiliki rekening bank dalam hal laporan mereka terhadap hambatan inklusi keuangan? (3) Sejauh mana pola-pola ini bervariasi di berbagai negara dan antar karakteristik tingkat individu? Dalam sampel negara yang terbatas, studi ini juga menyelidiki: (4) Seberapa lazim kesadaran dan penggunaan jasa keuangan yang sesuai dengan Syariah? (5) Sampai sejauh mana Muslim bersedia membayar premi untuk jasa dan layanan keuangan yang sesuai dengan Syariah? (Menariknya, menurut laporan pada tahun 2008 oleh Price Waterhouse Coopers, menunjukkan bahwa orang-orang non-Muslim kuantitasnya jauh melebihi orang-orang Muslim dalam hal menggunakan jasa dan sebagai klien keuangan Islam di Malaysia).

Studi ini menunjukkan beberapa hal yang menarik. Ditemukan bahwa “Muslim lebih mungkin daripada non-Muslim untuk melaporkan faktor agama sebagai penghalang kepemilikan akun, namun kesimpulan ini tampaknya didorong oleh hasil survei dari responden di Sub Sahara Afrika. Selajutnya, seperti halnya non-Muslim, Muslim lebih cenderung menyebut faktor-faktor seperti biaya, jarak, dan dokumentasi sebagai penghalang untuk kepemilikan akun mereka”. Sebaliknya, studi ini tidak menemukan adanya bukti bahwa tingkat religiusitas responden memainkan peran yang sangat penting dalam hal perilaku keuangan umat Muslim, jika dibandingkan dengan rekan non-Muslim mereka. Namun penting dicatat bahwa terdapat beberapa keterbatasan utama dalam data yang digunakan pada “religiusitas” yang digunakan disini, sebagai variabel utama.

Studi ini menemukan “sangat sedikit penggunaan produk perbankan syariah (hanya 2 persen dari seluruh responden)” akan tetapi pada saat yang sama, juga menunjukkan bukti preferensi hipotetis yang kuat untuk produk syariah meskipun biayanya lebih tinggi (45 persen dari seluruh responden). Selanjutnya, 37 persen responden lebih memilih produk konvensional atau tidak memiliki preferensi yang menunjukkan permintaan akan produk yang sesuai syariah tanpa menghiraukan masalah biaya.

Hasil studi di atas hampir tidak berlawanan dengan intuisi penulis. Rendahnya penggunaan produk perbankan syariah kemungkinan karena berbagai alasan, termasuk kurangnya kesadaran (yang tercatat dalam penelitian), atau kurangnya kepercayaan pada keaslian produk atau jasa perbankan syariah yang tersedia dan faktor-faktor yang berkaitan dengan efisiensi dalam pemberian layanan. Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa patuh terhadap hukum Syariah memang merupakan hal penting bagi umat Muslim. Yang mungkin, menjadi lebih penting lagi bagi umat Muslim yang miskin. Kurangnya unsur kepatuhan terhadap hukum Syariah kemungkinan akan memperburuk masalah perluasan keuangan di antara umat Muslim dan akibatnya, menyebabkan tingkat kemiskinan yang lebih besar.

(Diterjemahkan oleh:
Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: