Jika kita ingin menyandingkan aksi-aksi yang digerakkan Maqasid bersama dengan aksi-aksi yang digerakkan SDGs dalam ruang dua dimensi yang sama, pendekatan yang realistis adalah dengan menggunakan pencapaian spiritual dan keuntungan moral atau etis secara bergantian.

Dalam bagian kedua dari seri tentang Menetapkan Agenda Pembangunan Berbasis-Maqasid untuk Keuangan Islam, Kami melanjutkan diskusi tentang keuntungan materi versus keuntungan spiritual dalam konteks memeriksa keselarasan – atau sebaliknya – antara Maqasid al-Syariah (MaS) dan kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Keuntungan materi bisa berupa sesuatu yang abstrak seperti: reputasi atau citra sebagai entitas etis, moral dan agama, ketika hal yang sama dilihat sebagai wakil untuk, atau sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan dan kekayaan seseorang. Contohnya adalah hipotesis bahwa reputasi perusahaan yang sadar secara etis mengarah pada valuasi yang lebih tinggi dan pemaksimalan kekayaan pemegang saham, atau bahwa ekuitas yang sesuai syariah rata-rata mengungguli rekan-rekan konvensional mereka, nilai tambahan yang berasal dari peningkatan reputasi emiten sebagai entitas yang sadar etika.

Dengan cara yang sama, dalam konteks amal (zakat dan wakaf) kredibilitas dan kepercayaan yang dibangun dan dinikmati oleh suatu organisasi dapat mengarah pada aliran dana dan aset yang lebih tinggi yang akan meningkatkan bagian para amil dan nadzir dalam rasio yang sama ke nilai yang telah meningkat tersebut. Hal ini akan terjadi sembari memastikan bahwa rasio pembagian masih sesuai dengan Syariah dan peraturan terkait (mis. Seperdelapan zakat yang dimobilisasi untuk amil atau sepersepuluh pendapatan yang dihasilkan oleh wakaf untuk nadzir sesuai hukum wakaf Indonesia). Ketika satu entitas terlibat dalam perilaku etis dengan niat untuk memaksimalkan bagiannya dalam grafik amal, ia mencari keuntungan materi. Unit ekonomi (individu atau organisasi yang pada dasarnya adalah wakil bagi pemangku kepentingan individu) tidak dapat disalahkan atau dihukum selama tindakannya sesuai dengan mandat Syariah atau peraturan terkait. Contoh lain dapat dikutip dalam konteks pemberi amal individu, seorang donatur mungkin telah termotivasi untuk memberikan amal dengan faktor “merasa-baik” sementara tindakan-tindakan kebajikan lainnya mungkin disebabkan oleh apa yang disebut faktor “aktualisasi diri”. Motivasinya mungkin berasal dari pemahaman sederhana bahwa citra seseorang sebagai jiwa yang jujur dan sholeh dapat diubah menjadi atau membuka pintu perolehan uang – peningkatan penerimaan sosial, kekuasaan, dan kekayaan.

Sebaliknya, individu tersebut mungkin memang termotivasi oleh dorongan untuk mendapatkan kesenangan dari Yang Maha Kuasa. Suatu unit ekonomi terlihat mencari keuntungan spiritual ketika tindakannya didukung oleh niat untuk mendapatkan kesenangan Sang Pencipta. Apa yang ada dalam hati dan pikiran manusia atau niat sebagian besar tidak dapat diketahui dan hanya diketahui oleh Sang Pencipta atau ketika secara jujur diungkapkan oleh individu atau entitas yang bersangkutan. Memang, motivasi “materi” kadang-kadang mungkin tersembunyi terlalu dalam di hati dan pikiran individu untuk membuatnya sadar akan hal yang sama. Seorang yang beriman disarankan ketika ia melakukan tindakan amal sholeh dan baik hati untuk terus-menerus mengintrospeksi tentang motivasinya dan mencari bantuan dari Yang Maha Kuasa untuk memastikan kemurnian niat dan mencari pengampunan-Nya ketika tindakan itu diselesaikan untuk kemungkinan niat yang tercemar. Seorang yang melakukan tindakan harus melakukan pengawasan yang terbaik dan berkesinambungan untuk memastikan kemurnian niat atau kehadiran “ikhlas” dalam suatu tindakan, bagaimana sholeh atau baik hati-nya ia terlihat. Pada saat yang sama, harus digarisbawahi di sini bahwa niat dan kemurniannya (ikhlas) tidak diketahui dan merupakan hal yang ketat antara individu dan Sang Pencipta.

Niat dan kemurniannya (ikhlas) tidak diketahui dan merupakan hal yang ketat antara individu dan Sang Pencipta.

Untuk analisis tindakan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan manfaat kolektif dan pencegahan kerugian kolektif, seseorang harus beralih dari gagasan niat dan ikhlas yang tidak diketahui ke niat “terungkap” sebagaimana digambarkan dalam tindakan dan perbuatan unit ekonomi.

Untuk analisis Kami, Kami mengklasifikasikan semua tindakan (strategi, taktik, langkah kebijakan) dalam ruang material-spiritual berikut. Sumbu vertikal mewakili keuntungan material, sedangkan sumbu horizontal mewakili keuntungan spiritual. Di empat kuadran, kita harus dapat menempatkan tindakan spesifik yang mengarah pada empat kemungkinan kombinasi dari pencapaian material-spiritual.

Untuk analisis tindakan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan manfaat kolektif dan pencegahan kerugian kolektif, seseorang harus beralih dari gagasan niat dan ikhlas yang tidak diketahui ke niat “terungkap” sebagaimana digambarkan dalam tindakan dan perbuatan unit ekonomi.

Penting untuk dicatat dua pertimbangan penting di sini. Pertama, jika kita ingin menyandingkan aksi-aksi yang digerakkan Maqasid bersama dengan aksi-aksi yang digerakkan SDGs dalam ruang dua dimensi yang sama, pendekatan yang realistis adalah dengan menggunakan pencapaian spiritual dan keuntungan moral atau etis secara bergantian sepanjang sumbu horizontal. SDGs tidak benar-benar peduli tentang spiritualitas, tetapi tentu saja peduli tentang moralitas dan etika. Kedua, kita dapat menempatkan suatu tindakan sebagai titik dalam ruang dua dimensi kita, membandingkan dan memilih yang optimal, hanya ketika keuntungan materi atau moral/spiritual terkait dengan masing-masing dari titik itu, entah bagaimana dapat terkuantifikasi dan/atau diukur.

Kuadran 1 dimana keuntungan materi dan moral / spiritual positif (poin A1, A2, A3): Contoh pada tingkat individu orang beriman dapat mencakup pendapatan dari bisnis makanan halal; puasa dan manfaat kesehatan darinya; melakukan haji dan penghasilan dari dagangan yang menyertainya. Pada tingkat makro, hampir semua tindakan dalam mengejar Maqasid al-Shariah dan SDGs selaras dengannya jatuh di kuadran ini. Poin A1 dan A2 dapat dilihat seperti menggambarkan kombinasi tersebut; A3 menggambarkan lebih banyak dari keduanya dibandingkan dengan A1 & A2. Namun, ada pengorbanan saat berpindah dari A1 ke A2. Pilihan yang terakhir menyiratkan lebih banyak perolehan materi dan lebih sedikit perolehan moral/spiritual dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Kuadran 2 dimana keuntungan materi positif, tetapi keuntungan moral / spiritual negatif (poin B): Contohnya termasuk penggunaan ekstrak daging babi dalam vaksin, bahan-bahan murah tapi non-halal dalam produksi makanan dan barang konsumsi lainnya, bisnis dan keuangan lembaga-lembaga khususnya yang berupaya meningkatkan laba dengan riba, investasi dalam “saham dosa”. Pada tingkat makro yang lebih luas, kebijakan yang mendorong monopoli atau yang mendorong pertumbuhan tetapi meningkatkan kesenjangan dalam pendapatan dan kekayaan adalah contoh yang cocok.

Kuadran 3 dimana keuntungan material dan moral / spiritual negatif (poin C): Contohnya termasuk konsumsi anggur dan daging babi atau merokok yang mengarah pada bahaya kesehatan utama; kurangnya pendidikan dan keterampilan yang menyebabkan rendahnya pendapatan dan kemiskinan, sanitasi yang buruk menyebabkan penyakit; emisi karbon yang mengarah pada kondisi iklim yang merugikan. Tindakan dalam kuadran ini persis kebalikan dari yang ada di kuadran 1.

Kuadran 4 di mana keuntungan moral / spiritual positif, tetapi keuntungan material negatif (poin D): Contoh sederhana mungkin dari bisnis yang kehilangan pelanggan dan volume ketika ditutup selama sholat berjamaah, bank kehilangan pelanggan saat mereka menawarkan produk yang sesuai Syariah dan menghindari yang berbasis riba, dan sebagainya.

Dengan kerangka kerja ini, sekarang memungkinkan untuk memetakan berbagai tujuan dan sub-tujuan global di bawah kerangka kerja MAS dan SDGs ke salah satu dari empat kuadran. Secara umum, orang akan menemukan keselarasan akan jatuh di Kuadran I, sedangkan ketidakselarasan akan jatuh di kuadran yang lain. Kita akan melihat bagaimana, dibagian selanjutnya dari seri ini insyaAllah.

(Bersambung)

(Diterjemahkan oleh:
Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: