Dengan ruang lingkup yang diperluas Kami mengusulkan untuk memeriksa keselarasan atau ketidakselarasan antara MaS dan SDGs lebih jauh lagi dalam hirarki tujuannya. Menyoroti area penyelarasan tidak kalah penting dari area yang tidak selaras.

Publikasi terakhir Kami tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari Perspektif Syariah didorong oleh keengganan yang Kami amati dari lembaga keuangan Islam untuk melihat melampaui perspektif ‘kepatuhan’. Publikasi Kami berpendapat dalam rangka mendukung perubahan kearah pendekatan yang didorong oleh dampak dengan fokus pada tujuan Syariah. Sejauh ada keselarasan antara Maqasid Syariah (MaS) di satu sisi, dan tujuan pembangunan komunitas global, yang ada di SDGs di sisi lain, lembaga keuangan Islam dapat berpartisipasi dalam agenda pembangunan yang diamanatkan PBB sebagai aktor global yang bertanggung jawab.

Perbandingan antara tujuan yang memiliki misi agama yang melekat padanya, berasal dari prinsip-prinsip moral yang didasarkan pada iman dan agama disatu sisi (misalnya MaS), dan tujuan yang ditetapkan oleh PBB, sebuah badan global yang mewakili masyarakat dengan beragam agama dan budaya (misalnya SDGs) pasti akan memunculkan beberapa pertanyaan. Kami menerima beberapa tanggapan dari para pembaca, yang memungkinkan Kami untuk meneliti memeriksa kanvas yang lebih luas dengan lebih cermat.

Beberapa pembaca yang terpelajar menunjukkan bahwa, sementara poin yang pertama memiliki dimensi moral dan spiritual yang jelas, poin yang selanjutnya berakar pada pertimbangan materialistis, dan lahir dari kegagalan pasar yang berulang-ulang untuk mengatasi masalah masyarakat. Oleh karena itu, mungkin ini adalah perbandingan antara apel dengan jeruk. Sebagaimana diartikulasikan oleh seorang sarjana ekonomi dan keuangan Islam yang diakui, “SDGs menyikapi indikator-indikator pembangunan yang mewakili satu jenis realitas, yaitu secara materi dan dapat diukur. Realitas yang lebih penting adalah tentang Ruh (jiwa yang bersih) yang tidak dapat diukur.” Komentar-komentar ini jelas mengangkat beberapa masalah dan poin diskusi yang menarik.

Mari kita pertimbangkan Maqasid Syariah. Terlepas dari berbagai skema klasifikasi yang tersedia dalam literatur Islam, Kami memilih sesuatu yang setiap penganut agama tahu dan mengerti. Misi Syariah yang luas dan holistik adalah menjadikan manusia sebagai khalifah Yang Maha Kuasa di bumi. Di bawah misi luas terpadu ini, Syariah telah mengidentifikasi berbagai tujuan yang harus dikejar, tujuan yang mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya bagi manusia dan planet ini. Orang-orang beriman mencari keridhaan Yang Maha Kuasa dengan berusaha untuk bertindak demi tujuan-tujuan ini. Spiritualitas dan moralitas melekat pada tindakan amal sholeh dan baik hati seperti itu.

Sudah jelas bahwa untuk pertimbangan praktis, SDGs yang diamanatkan PBB harus tampak netral dari agama. Ini tidak diidentikkan dengan prinsip-prinsip pedoman yang “diperlihatkan” sebagaimana didiktekan oleh agama atau keyakinan tertentu. Namun, akan menjadi salah bila menyatakan bahwa SDGs berusaha untuk mencapai keuntungan material yang tidak memiliki dimensi moral. Ketika seorang miskin menerima bantuan uang tunai atau sepotong makanan, ini mungkin merupakan "”keuntungan materi”" baginya. Tetapi tangan yang membantu orang miskin atau memberi makan orang yang lapar, tentu saja, tidak bisa dilihat untuk mengejar keuntungan materi. Perilaku seperti itu berakar pada altruisme dan kebajikan, tetapi merupakan contoh tindakan moral. Benar dinyatakan bahwa SDGs berasal dari "”kegagalan pasar”". Pasar, diatur oleh keserakahan, ketamakan dan keangkuhan tidak pernah gagal untuk gagal dalam menyediakan berbagai barang publik, merawat yang fakir atau miskin, mencegah perselisihan dan konflik, mencegah kekejaman terhadap hewan, merawat apa yang ada di bumi dan apa yang ada berada di bawah laut. Mengatakan bahwa SDGs tidak memiliki dimensi moral sama sekali tidak benar.

Mengatakan bahwa SDGs tidak memiliki dimensi moral sama sekali tidak benar.

Pada saat yang sama, tujuan dari pelaksaan semacam itu yang meneliti penyelarasan atau sebaliknya antara MaS dan SDGs memiliki kelebihannya sendiri dalam mengarahkan tindakan bersama dan terkoordinasi yang bertujuan untuk mencapai tujuan sosial masyarakat bermoral. Bukti awal menunjukkan tingkat keselarasan yang besar (jangan disalahartikan dengan “kesetaraan” diantara tujuan global dalam kedua kerangka tersebut. Kerangka kerja MaS sebagaimana diucapkan oleh Al-Ghazali menyajikan lima tujuan global – perlindungan dan pemeliharaan diin (agama), nafs (diri), aql (kecerdasan), nasl (keturunan) dan maal (kekayaan). Para cendikiawan Muslim telah memperluas kerangka kerja ini untuk mengidentifikasi banyaknya sub-tujuan di dalam masing-masing dari lima tujuan global dan juga telah berusaha untuk menggarisbawahi saling ketergantungan mereka. Demikian pula, ada banyak sub-tujuan di dalam masing-masing dari tujuh belas tujuan dalam kerangka kerja SDGs. Dalam inisiatif penelitian yang sedang berjalan, Kami mengusulkan untuk memperluas ruang lingkup penelitian Kami untuk memeriksa keselarasan atau ketidakselarasan antara dua kerangka kerja ini ketika kita memeriksa hierarki tujuan dan sub-tujuan.

Kemampuan untuk mengukur Tujuan:

Selanjutnya, Kami mempertimbangkan perihal pengukuran. 17 SDGs telah menetapkan 169 target untuk pembangunan global yang akan dicapai pada tahun 2030. Perkembangan menuju target ini disepakati untuk dilacak oleh 232 indikator unik. Dengan demikian, terukurnya tujuan, target dan pencapaian sangat penting dalam kerangka SDGs untuk keberhasilannya. Ini sejalan dengan kata-kata Peter Drucker yang terkenal: “Apa yang dapat diukur, dapat dikelola.” Namun, para cendikiawan kontemporer, memperingatkan agar tidak terlalu menekankan pada kemampuan mengukur, misalnya: ketika kita mengatakan “Apa yang tidak bisa diukur tidak bisa dikelola”, mereka mengutip contoh-contoh kualitas etika, kebijaksanaan, kehati-hatian dan penilaian yang sulit untuk diukur dan akibatnya secara rutin kurang ditekankan. Nilai-nilai kemanusiaan, seperti: cinta dan altruisme dll sulit diukur. Pada saat yang sama, tampaknya ada kesepakatan pada pandangan bahwa kita mengabaikan mhal tersebut sebagai faktor penting dalam kehidupan organisasi dengan risiko kita sendiri.

Adakah contoh tindakan yang dapat diukur dalam kehidupan rohani penganut agama? Apakah ada contoh hasil tindakan yang dapat diukur yang dilakukan untuk mendapatkan kesenangan dari Yang Maha Kuasa? Jawabannya adalah ada, bahkan dalam konteks ibadah atau tindakan kesalehan lainnya.

Ibn Mas’ud mendengar Rasulullah mengatakan: “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Ka’ab bin ‘Ujrah mendengar Rasulullah mengatakan: “Bacaan-bacaan setelah shalat fardu yang tidak akan mengecewakan orang yang membacanya atau melaksanakannya adalah tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali dan takbir (Allahuakbar) tiga puluh empat kali” (HR Muslim)

Abu Hurairah mendengar Rasulullah mengatakan: “Allah memiliki seratus rahmat. Allah menurukan satu rahmat bagi ciptaannya dan Allah mengakhirkan rahmat yang 99, karena dengannya Allah akan merahmati hamba-hamba-Nya pada hari kiamat” (HR Muslim)

Abu Sa’id al-Khudri mendengar Rasulullah mengatakan: “Shalat berjamaah itu melebihi shalat sendirian dua puluh lima derajat” (HR Bukhari)

Abu Hurairah mendengar Rasululullah mengatakan: “Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan lima ratus tahun.” (HR Tirmidzi)

Ali bin Abu Talib mendengar Rasulullah mengatakan: “Tidaklah seorang Muslim menjenguk orang musim di pagi hari sehingga tujuh puluh ribu malaikat akan berdoa untuknya sampai sore hari. Dan jika dia menjenguk di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat akan berdoa untuknya hingga pagi hari. Dan dia akan memetik buahnya di surga.” (HR Tirmidzi)

Ada beberapa contoh perbandingan kardinal dan ordinal dalam ajr, hasanah, tsawab (satuan pahala) dalam Syariah.

Ada banyak hadis yang memberi tahu kita tentang tindakan tertentu yang lebih baik daripada yang lain atau X kali lebih baik daripada yang lain. Ada beberapa contoh perbandingan kardinal dan ordinal dalam ajr, hasanah, tsawab (satuan pahala) dalam Syariah, bahkan ketika ini jelas merupakan tindakan kesalehan, kebajikan, kepatuhan kepada Yang Maha Kuasa dan tentang pemurnian jiwa (ruh). Sejalan dengan metodologi di atas yang digunakan untuk mendorong aksi dari orang beragama, tujuan Syariah, target dan indikator harus dikembangkan untuk mengoperasionalkan kerangka kerja MAS.

Sejalan dengan metodologi di atas yang digunakan untuk mendorong aksi dari orang beragama, tujuan Syariah, target dan indikator harus dikembangkan untuk mengoperasionalkan kerangka kerja MAS.

Keuntungan Material dan/atau Spiritual

Kita harus mengakui kenyataan bahwa umat Islam dimotivasi oleh hadiah spiritual dan material, seringkali oleh kombinasi keduanya; meskipun terkadang melakukan pengorbanan diantara keduanya. Jika SDGs yang diamanatkan oleh PBB dikejar untuk imbalan materi saja, itu seharusnya tidak mengejutkan dan itu tidak masalah. Memang, jika beberapa unit ekonomi mencari keuntungan materi semata, atau jika unit lain mencari keuntungan spiritual saja, atau jika unit ketiga mencari kombinasi antara keduanya, mereka semua dapat diakomodasikan dalam hitungan – di kanvas yang lebih luas. Hal tersebut tidak harus menjadi jenis skenario “antara ini – atau itu” yang menyerukan “perubahan paradigma”. (1)

Bersambung

Catatan:

1. Namun faktanya tetap, bahwa sektor keuangan Islam saat ini membutuhkan “reformasi”. Sebagian besar pemain tampaknya terlalu condong atau berorientasi pada keuntungan materi dengan tingkat minimum pada kepatuhan Syariah yang akan membenarkan label Islam mereka. Mereka membutuhkan dorongan ke arah dan lebih dekat kepada dimensi spiritual dengan berfokus pada Maqasid Syariah.

(Diterjemahkan oleh:
Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: