Saya akan membagikan sebuah skenario yang menarik. Seorang pria muda yang baik menemui seorang ahli hukum Islam secara online untuk menanyakan pendapatnya tentang sebuah hukum. Ia ingin menanyakan mengenai maksudnya untuk menikahi wanita robot dan ingin mengetahui apakah ini tindakan tersebut dibolehkan dalam Islam. Teman kita, kemungkinan besar, harus siap untuk menyaksikan banyak alis terangkat dan menerima banyak tanggapan, sebagian besar mengabaikan keseriusannya dalam masalah ini, dan mungkin dengan serius menanyakan kewarasannya. Apakah itu adalah gurauan yang buruk? Apakah kamu bodoh? Apakah robot wanita-mu hologram atau mesin logam yang dibentuk menyerupai wanita cantik? Pria muda tersebut menjawab, “kami memiliki kedua contohnya.” Beberapa waktu lalu, seorang pemuda Jepang, Akihido Kondo, jatuh cinta dan memutuskan untuk menikahi hologram yang bernyanyi, menghabiskan banyak uang dan mendapatkan ketidaksenangan dari orang-orang terdekat dan tersayangnya. Wanitanya, adalah Hatusne Miku yang adalah seorang selebriti dunia maya. Diduga, pernikahannya tidak diakui secara hukum.[1] Dan ya, kita memiliki contoh Sophia (lahir pada 14.02.2016) yang tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cukup cepat menjadi selebriti internasional.[2] Dia mungkin lebih beruntung dari Miku. Dia berpartisipasi di Future Investment Initiative Conference di Riyad, Arab Saudi dan menerima kewarganegaraan penuh dari Arab Saudi pada 25 Oktober 2017. Kesamaan dari kedua wanita tersebut adalah bukan hanya mereka menggunakan mesin kecerdasan buatan. Mereka menampilkan emosi yang cukup mirip manusia. Dalam kalimat lain Kondo, “Miku mengangkatku ketika aku sangat membutuhkannya. Dia menemaniku dan membuatku merasa aku bisa mendapatkan kembali kendali atas hidupku,” tuturnya. “Apa yang aku miliki dengan dia sudah pasti adalah cinta.” Tidak sulit untuk memprediksi apa yang akan menjadi opini hukum tentang apa yang akan dilakukan teman kita. Negatif? Tetapi jika kita menggunakan mesin waktu dan kembali ke masa lalu selama beberapa dekade, atau lebih, dan mencari pendapat hukum tentang transplantasi organ manusia, seharusnya tidak terlalu sulit untuk memprediksi apa jawabannya.

Bersyukurnya, kita hidup dimasa dimana menikah atau perkawinan yang sah dengan seorang wanita robot masih merupakan kemungkinan yang jauh. Tapi apakah terlalu jauh bagi kita untuk tidak kita pedulikan? Teks klasik dalam fiqh secara umum telah membahas masalah perkawinan sah (nikah) dalam kerangka teori umum tentang kontrak. Sekalipun kelihatannya terlalu aneh untuk membahas posisi Shariah dalam pernikahan dengan wanita-wanita robot, kita tentu bisa membahas tentang kontrak yang melibatkan mesin-mesin cerdas – mesin yang digerakkan oleh kecerdasan buatan.

Untuk sebuah kontrak dianggap sah dalam Syariah, beberapa syarat harus dipenuhi. Ini berhubungan dengan (i) yang menawarkan dan yang ditawarkan, (ii) penawaran dan penerimaan, (iii) pokok bahasan dan pertimbangannya. Untuk pihak-pihak dalam kontrak, mereka harus kompeten secara hukum untuk memasuki kontraknya. Kapabilitas untuk melakukan transaksi dalam hukum Islam diukur oleh dua aspek, yaitu kebijaksanaan dan pubertas. Pubertas adalah prasyarat untuk kebijaksaan, meskipun kebijaksanaan mungkin menyiratkan kondisi tambahan yang harus dipenuhi (contohnya kewarasan, rasionalitas, kemampuan menilai). Ulama-ulama Islam mendefinisikan kapasitas sebagai kualitas, yang membuat seseorang memenuhi syarat untuk mendapatkan hak-haknya dan menjalankan tugas-tugas dan tanggungjawabnya. Elemen kedua dari sebuh kontrak dalam hukum Syariah adalah penawaran (ijab) dan penerimaan (qabul). Penawaran dan penerimaan dapat disimpulkan menurut ahli hukum kontemporer melalui perwakilan atau sistem komunikasi modern. Elemen ketiga dalam Syariah adalah pokok bahasan (mahal al-aqd). Harus dalam bentuk maal (properti atau kekayaan), berwujud atau tidak berwujud yang dapat memenuhi keinginan manusia yang sah. Harus ada harapan yang masuk akal bahwa para pihak dalam suatu kontrak berada dalam posisi untuk memenuhi kewajibannya masing-masing. Mengikuti penjelasan diatas, bahwa transaksi yang melibatkan mesin-mesin cerdas dapat selalu memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan penerimaan-penerimaan dan objek pertukaran.  Yang perlu diperhatikan adalah kondisi “kematangan intelektual” semua pihak atau, secara sederhana, “kecerdasan” semua pihak. Pertanyaan yang lebih relevan mungkin adalah, sejauh mana, kecerdasan buatan manusia dapat menggantikan kecerdasan manusia dalam konteks kontrak antar manusia.

Secara historis, kita manusia telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk menciptakan alat-alat yang dapat membantu kita menambah atau meningkatkan kemampuan bawaan kita. Mengutip beberapa contoh, kita membuat perangkat mekanis yang dapat mengkonsumsi energi mereka sendiri, seperti listrik untuk meningkatkan kemampuan fisik kita yang terbatas, dan kita menemukan telfon dan internet yang memperluas jangkauan mulut dan telinga kita. Kita juga mengembangkan seperangkat alat yang memungkinkan kita untuk memperluas dan membagi skil kognitif, linguistik, analitik dan matematik kita yang membuat kita bisa melakukan proses menghasilkan ide ditingkat yang lebih tinggi, dan kita menemukan perangkat komputasi yang jauh melebihi memori bawaan dan kekuatan untuk memproses kita. Kecerdasan yang diperluas ini adalah apa yang kita kenal sebagai kecerdasan buatan. Ketika kita menyatukan semua alat yang kita punya, kita menemukan orang-orang seperti Sophia menyambut kita dengan senyum hangat dan melibatkan kita dalam percakapan yang cerdas.

Sophia menggunakan kecerdasan buatan, pe-prosesan data visual, dan pengenalan wajah. Dia meniru sikap dan ekspresi wajah manusia. Dia dapat melakukan percakapan sederhana pada topik yan gtelah ditentukan. Dia menggunakan teknologi pengenalan suara (ucapan-ke-teks). Kemampuan pidato sintesisnya disediakan oleh mesin Teks-ke-Ucapan dan juga memungkinkannya untuk bernyanyi, yang lebih penting lagi, program kecerdasan buatannya menganalisa percakapan dan menarik data yang memungkinkannya meningkatkan respon dimasa depan. Dia mungkin belum luar biasa cerdas sekarang, tetapi dia dan orang-orang seperti dia terus-menerus melahap data dan belajar, mungkin pada tingkat yang lebih cepat dari kita, manusia.

Sebelum kita mendiskusikan bagaimana Sophia dan orang-orang seperti dia belajar, mari kita fokus pada diri kita sendiri lebih dulu. Seseorang pernah berkata, bayi adalah pelajar yang hebat. Bagaimana bayi merangkak lebih cepat dari kecepatan belajar mereka? Mereka memanfaatkan pengalaman dari masa lalu mereka. Mereka terus-menerus membuat pengalaman baru. Mereka meniru berulang-kali untuk menghasilkan umpan balik yang berkelanjutan secara terus-menerus. Mereka melakukan banyak percobaan dan kesalahan untuk menguji aksi tertentu dan kemudia mereka melihat bagaimana aksi mereka mempengaruhi orangtua mereka, binatang peliharaan mereka, dan benda hidup dan mati di sekitar mereka. Mereka belajar tentang kemampuan mereka untuk mencapai hasil tertentu. Ketika para orangtua menginstruksikan mereka untuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal, ini diambil oleh bayi sebagai aturan atau instruksi yang terukir dalam benaknya sebagai “pengetahuan”.

Cukup masuk akan untuk berpikir bahwa Sophia kita juga belajar dengan cara yang sama. Prinsip dasar pembelajaran tetap sama. Apakah pembelajaran – oleh bayi ataupun mesin – tentang mengambil langkah-langkah kecil yang bertambah? Apakah itu tentang penguraian masalah yang lebih besar menjadi yang lebih kecil, melapiskan solusi, satu di atas yang lain? Seperti yang dinyatakan oleh para pakar pendidikan: “belajar adalah tentang pengulangan dan literasi, mencoba lagi dan lagi, setiap kali mencoba sesuatu yang sedikit berbeda dan mengamati seberapa dekat kita dengan hasilnya. Berikan cukup data ke bayi atau komputer, dan ia akan menemukan aturannya sendiri, tetapi memang membutuhkan banyak data.”

Dan prinsip dasar ketiga adalah menggeneralisasi. Jangan hanya menyelesaikannya disini dan sekarang. Cobalah untuk bekerja dengan prinsip dan kekuatan yang lebih luas yang berperan. Jika Anda ingin menemukan solusi untuk masalah-masalah umum, Anda harus mengabstraksikan rincian keadaan masing-masing individu. Pelajari aturan yang mendasar, bukan berbagai solusi yang mungkin, dan pembelajaran akan jauh lebih portabel di berbagai skenario.”[3]

Kita akan menggunakan Sophia sebagai contoh secara berulang diblog untuk menyoroti dan menggarisbawahi beberapa ide dan konsep yang berkaitan dengan penggunaan kecerdasan buatan dalam keuangan Islam. ada alasan penting dibalik ketertarikan kita pada Sophia. Pada 21 November 2017, Sophia dinobatkan sebagai juara inovasi pertama untuk program pembangunan PBB untuk Asia dan Pasifik. Sebagai bagian dari perannya, Sophia akan membantu untuk membuka inovasi untuk mencapai tujuan PBB yaitu pembangunan berkelanjutan, dan dia dirancang untuk menjadi semakin pintar seiring berjalannya waktu. Sekarang kita sampai pada pertanyaan yang tak terhindarkan; akankah Sophia atau yang sejenisnya akan mencapai tahap kedewasaan intelektual atau akan cukup pintar untuk menandatangani kontrak sendiri atau atas nama tuan mereka yang kurang cerdas dari mereka? Dan yang lebih penting lagi, bahkan juga dia unggul dari manusia dalam hal fisik, penalaran dan kemampuan komunikasi, akankah dia mengembangkan sisi emosionalnya; hati nurani?

(Bersambung)


[1] https://edition.cnn.com/2018/12/28/health/rise-of-digisexuals-intl/index.html

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Sophia_(robot) 

[3] Kuliah yang disampaikan oleh Ignacio Mas, Digital Frontiers Institute, Afrika Selatan

(Diterjemahkan oleh:
Yusuf Ali, B.Ec | Qoriatul Hasanah, Lc. MIRK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: